Beberapa hari kemarin dalam harian Solo Pos
Kamis, 16 Mei 2013 11:14 WIB, salah satu pemerhati fenomena sosial yang arif dan bijak menanggapi berbagai kasus saat ini yang hotz di partai Keadilan Sejahtera saat ini. Berikut kutipannya :
Imam Subkhan,
Pemerhati fenomena sosial tinggal di Karanganyar
Istilah
autolosis barangkali hanya kita jumpai pada pelajaran Biologi atau ilmu
kesehatan. Pembahasan autolosis biasanya disangkutpautkan dengan proses
pembusukan pada makanan atau organ makhluk hidup. Sebagai ilustrasi, sering
kali makanan yang kita buat atau kita beli jika disimpan dalam waktu yang lama
menjadi basi.
Istilah basi
yang akrab di telinga kita merupakan proses dari pembusukan makanan (spoilage
food). Lebih jelasnya, pembusukan makanan adalah rusaknya nilai gizi, tekstur,
serta rasa dari makanan sehingga tidak layak dikonsumsi karena berbahaya bagi
kesehatan.
Berdasarkan
referensi yang saya baca, proses pembusukan setidaknya disebabkan oleh dua
faktor, yaitu dari luar dan dalam. Dari luar, misalnya keberadaan
mikroorganisme, seperti bakteri, jamur dan zat-zat lain yang sengaja dipakai
untuk membuat makanan cepat membusuk.
Sedangkan faktor
dari dalam, inilah yang disebut autolisis. Autolisis adalah proses pembusukan
makanan dikarenakan zat yang terkandung dalam makanan itu sendiri, sekaligus
adanya reaksi kimia antara zat yang dikandung dalam makanan dengan oksigen di
udara sekitar. Saya tidak akan lebih jauh membahas proses autolisis pada bidang
biologi, karena memang bukan kapasitas keilmuan saya.
Saya mencoba
membedah ingar-bingar pemberitaan tentang kemungkinan runtuhnya salah satu
partai politik (parpol) besar di negeri ini dengan menggunakan ”pisau”
autolisis, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa waktu terakhir, PKS
digoncang dengan beberapa kasus moral dan hukum, mulai dari ulah memalukan
anggotanya, Arifinto, yang ketahuan asyik melihat video porno saat sidang,
kasus pencairan letter of credit (LC) fiktif oleh Misbakhun, serta beberapa
kasus dugaan korupsi para politisi PKS, baik di pusat maupun daerah.
Puncaknya, saat
orang tertinggi partai, presiden partai, Luthfi Hasan Ishaq (LHI) dinyatakan
sebagai tersangka kasus korupsi impor daging sapi dan pencucian uang oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Memang tidak hanya PKS yang tersandung
kasus korupsi. Hampir semua parpol di Indonesia pernah bersinggungan dengan penegak
hukum akibat kejahatan dan penyelewengan uang negara.
Namun, dari
sekian parpol yang berkasus, ada dua partai yang menjadi sorotan utama publik,
yaitu Partai Demokrat dan PKS. Partai yang pertama menarik untuk ditelanjangi
kasusnya habis-habisan karena partai penguasa. Sedangkan partai kedua
mengakibatkan publik cukup tercengang sekaligus prihatin karena partai ini
dikenal sebagai partai dakwah dengan kader-kader militan dan terdidik.
Entah karena
terlalu berat dan tidak mampu menyandang jargon partai ”bersih dan peduli”,
pada rapat pimpinan nasional (rapimnas) 2013 partai itu, jargon tersebut
ditanggalkan, diganti dengan kata “cinta, kerja dan harmoni.” Barangkali para
petinggi PKS menyadari jika terus memakai jargon yang terdahulu bisa menjadi
bumerang dan senjata makan tuan. Jejak partai yang tidak lagi bersih akibat
kasus korupsi yang mendera.
Kasus yang
menimpa PKS menjadi semakin sumir dan ironis karena disangkutpautkan dengan
kemunculan perempuan-perempuan cantik di sekeliling para politisi partai itu.
Selama sepekan terakhir, publik Indonesia disuguhi tayangan perempuan-perempuan
cantik dan seksi di berbagai media. Itu bukan karena faktor keartisan atau
prestasi yang dicapai, melainkan karena diduga ikut menikmati aliran dana kasus
suap kuota daging impor dan pencucian uang di Kementerian Pertanian dengan
tersangka Ahmad Fathanah (AF).
AF ini
disebut-sebut sebagai orang dekat LHI dan beberapa petinggi PKS lainnya.
Perempuan-perempuan di sekitar AF ini ada yang berstatus sebagai istri maupun
teman dekat. Ada mahasiswi cantik, Maharani Suciyono; foto model majalah
dewasa, Vitalia Sesha; artis Ayu Azhari dan Novia Ardhana; penyanyi dangdut Tri
Kurnia Puspita dan Septi Sanustika yang berstatus sebagai istri ketiga. Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah menemukan ada aliran
dana dari AF ke 20 perempuan.
Syahwat
Apa yang menimpa
PKS sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan jika dipandang dari kacamata
politik. Kita tahu, di dunia politik hampir tidak mengenal kata ”haram” untuk
berbuat segala sesuatu, demi mencapai tujuan yang diinginkan. Segala cara akan
ditempuh. Segala bentuk kekotoran dan kekejian ada di panggung politik. Para
ulama sepuh mengibaratkan politik sebagai water closet (WC) di rumah kita,
tempat pembuangan kotoran. Di WC banyak dijumpai kuman dan bibit-bibit penyakit
menular jika kita tidak rajin membersihkannya.
PKS secara pelan
tapi pasti mengalamai keruntuhan. Ini sesungguhnya bukan karena faktor dari
luar, seperti yang digembar-gemborkan selama ini, yaitu adanya agen rahasia
yang menyusup untuk menghancurkan partai dari dalam, seperti keberadaan AF.
Bukan pula kebenaran tuduhan PKS terhadap KPK sebagai tangan panjang penguasa
untuk mengerdilkan partai ini menjelang Pemilu 2014. Partai ini mengalami
pembusukan yang bersifat autolisis akibat digerogoti oleh perubahan mental dan
moral para elitenya yang begitu besar syahwatnya terhadap kekuasaan, yang
akhirnya menanggalkan idealisme dan garis perjuangan partai.
Konsistensi dan
komitmen untuk merawat dan menjaga partai dari sesuatu yang tabu dan abu-abu
apalagi haram pelan-pelan pudar oleh syahwat keduniawian. Keberanian dan
kelantangan mereka menyuarakan kebenaran dan keadilan kala menjadi aktivis,
lama-lama nyaris tak terdengar. Jikalau ada, itu sebatas retorika dan
pencitraan semata, bukan realitas.
Kita tahu,
mulanya PKS menjadi partai dambaaan kalangan muda, yang memiliki idealisme dan
cita-cita untuk membangun negeri ini, serta berjuang dengan landasan prinsip
dan nilai-nilai Islam. Jika ditengok ke
belakang, sejatinya PKS merupakan representasi dari gerakan Ikhwanul Muslimin
yang memiliki metode (manhaj) gerakan yang sempurna, bersumber dari Alquran dan
Sunnah, sebagaimana dipraktikkan para pendirinya, seperti Hasan Al Banna dari
Timur Tengah.
Generasi baru
dalam gerakan dakwah ini selalu mendapat penekanan sifat-sifat yang mulia. Para
pemimpinnya memberikan teladan yang nyata. Dakwah ini digambarkan Hasan Al
Banna seperti sebening cahaya dan seputih sinar. Tidak ada sedikit pun terselip
motif dan kepentingan duniawi. Semuanya dijalankan semata-mata atas dasar
keinginan mendapatkan rida Allah SWT. Namun, dalam perjalanannya, PKS melakukan
beberapa penyimpangan terkait tujuan perjuangan (ghoyah).
Semangat awal
para pendiri untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia kini digerogoti
virus-virus hedonisme. PKS kini telah menanggalkan idealisme perjuangan partai.
Baju atau simbol keislaman sebagai asas kepartaian satu per satu dilepas.
Pragmatisme, oportunisme dan mengejar tujuan jangka pendek kini merasuk di tubuh
partai yang kebanyakan dihuni mantan aktivis gerakan Islam kampus. Perolehan
kursi kekuasaan dan parlemen menjadi target utama, bukan sebagai sarana.
Fakta pembusukan
partai oleh para elite dan kader PKS dimulai dari pendeklarasian menjadi partai
terbuka dengan menerima orang-orang di luar kader, seperti tokoh-tokoh
nonmuslim, tokoh-tokoh nasionalis-sekuler dan para artis yang tidak jelas rekam
jejaknya. Di berbagai pemilihan kepemimpinan, baik pusat maupun daerah, PKS
tidak segan-segan berkoalisi dengan partai berideologi apa pun, yang
jelas-jelas sangat bertentangan dari segi platform dan tradisi perjuangan
partai, termasuk koalisi yang saat ini dijalani dengan partai penguasa.
PKS menjadi
partai oportunis sejati dengan menampilkan dua wajah yang berbeda. Di muka
publik, mereka menampilkan partai yang kritis terhadap pemerintah, tetapi di
sisi lain, mereka merengek kepada penguasa, supaya para menterinya tidak
didepak dari kabinet. Ada kawan saya, seorang jurnalis mengibaratkan, PKS tidak
bedanya dengan penjaga WC umum, sudah tahu baunya, tetapi tetap berharap supaya
banyak orang membuang kotoran di situ. Dan puncak proses autolisis PKS adalah
kasus korupsi yang semakin terang-benderang mendera para elite partai yang saat
ini sedang ditangani KPK.
Oleh
karena itu, bukan tidak mungkin dengan berbagai kasus yang menyandera, PKS
bakal ditinggalkan banyak kader dan konstituennya. Tidak ada lagi kepercayaan.
Dan diprediksikan pada Pemilu 2014, perolehan suaranya bakal terjun bebas dan
menjadi partai gurem yang tinggal menunggu waktu kehancurannya. Wallahualam
bissawab. (imamsubkhan@alfirdausina.net)
