Featured

Tampilkan postingan dengan label Info Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Media. Tampilkan semua postingan

Potensi Pertanian Sragen Besar - Cabup Yuni Ajak Masyarakat Tingkatkan Produktivitas



SRAGEN, suaramerdeka.com – Calon Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengajak kepada masyarakat Kabupaten Sragen untuk terus bahu membahu meningkatkan produktivitas hasil pertanian di bumi sukowati. Hal itu disampaikan oleh Cabup yang diusung Koalisi Sukowati Bangkit (KSB) tersebut saat menggelar panen raya tomat bersama warga di Kecamatan Tanon, Sragen, belum lama ini.

Sebagaimana diketahui, Sragen adalah wilayah di eks Karesidenan Surakarta yang merupakan daerah penghasil padi terbesar, bahkan Sragen pernah mengalami surplus rata-rata 205 ribu ton beras pertahun selama masa kepemimpinan Bupati Untung Wiyono.

Dengan produktivitas tersebut, tidak heran kalau Sragen juga dikenal sebagai salah satu Lumbung Padi Jawa Tengah. “Sragen kabupaten agraris yang potensi pertaniannya sangat luar biasa, ini (tomat-red) adalah salah satunya,” kata Yuni dalam siaran persnya, Kamis (6/8).

Hingga saat ini, pengembangan tanaman pertanian di Sragen sudah sangat maju, ini dibuktikan dengan luasnya tanaman padi organik Kecamatan Tanon tersebut. Disamping itu kemampuan dan kemauan masyarakat dalam pertanianjuga patut diacungi jempol karena mereka telah melaksanakan deversifikasi pertanian dengan menanam tomat, cabe, bawang merah, melon, semangka.
Dengan peluang tersebut, Yuni pun mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian yang dimiliki. “Kita harus bisa membuat sragen lebih makmur lagi dengan meningkatkan potensi pertanian yang kita miliki,” ujar perempuan yang juga putri mantan Bupati Untung ini.

Yuni yang berpasangan dengan Dedy Endriyatno (Ketua DPD PKS Sragen) dalam Pilkada Sragen juga terus berkomitmen untuk memajukan sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Pilkada Sragen sendiri akan digelar pada Rabu, 9 Desember 2015 mendatang.

(Er Maya/CN19/SMNetwork)
Read more

Pasangan Yuni-Dedy Target Menang



SRAGEN – Duet pasangan calon bupati-calon wakil bupati (cabup-cawabup) Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Dedy Endriyatno (Yuni-Dedy) mendaftar ke kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sragen, kemarin (26/7).
Pasangan Koalisi Sukowati Bangkit (KSB) ini diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pendaftaran pasangan Yuni-Dedy ini dikemas dalam parade dan karnaval yang dimulai dari Jalan Dr Sutomo, sekitar pukul 08.00. Pendukung yang mencapai ribuan orang ini bergerak ke kantor KPUD di Jalan Letjen Sutoyo 74.
Selain diiringi ribuan pendukung dan simpatisan, pengurus kedua partai pengusung pasangan Yuni-Dedy dan keluarga juga terlihat hadir.

Setelah registrasi, duet Yuni-Dedy menyerahkan berkas pendaftaran yang diterima Ketua KPUD Sragen Ngatmin Abbas didampingi seluruh komisioner. Seusai pendaftaran, Yuni menegaskan bahwa pihaknya menargetkan kemenangan dalam Pilbup 2015.
”Setiap perjuangan harus ada optimisme. Kalau tidak yakin, maka kita tidak akan menang," tandas putri mantan Bupati Sragen Untung Wiyono, ini.
Yuni mengungkapkan, bila masyarakat Sragen memberikan amanah, mereka bakal berusaha sekuat tenaga menjadi Bumi Sukowati lebih baik. Dia juga mengaku sudah menyerahkan persyaratan pencalonan. Kalau pun masih ada yang kurang, akan segera dilengkapi pada Senin (27/7).
”Kami tidak menargetkan persentase, tetapi target kami menang," tegas dokter yang juga direktur RSI Amal Sehat Sragen, ini.

Setelah pendaftaran, pihaknya akan terus menggenjot sosialisasi dan konsolidasi di internal partai. Selain itu juga akan menggerakkan semua unsur kekuatan partai dan para relawan pendukung Yuni-Dedy. Mereka akan bergerak ke seluruh wilayah Sragen dan harapannya dalam tempo 4,5 bulan nanti bisa memenangi Pilbup Sragen 2015.
Tentang banyaknya pendukung yang mengiringi mendaftar di KPUD, Yuni mengatakan, bila hal itu salah satu bukti masyarakat Sragen merindukan pemimpin yang baru. Pihaknya sekaligus meminta maaf jika selama proses perjalan aktivitas lalu lintas mengalami krodit.

Sementara itu, Ketua KPUD Sragen Ngatmin Abbas mengatakan, ada persyaratan pencalonan dan persyaratan calon yang harus dilengkapi saat pendaftaran. Setelah diteliti, untuk syarat pencalonan sudah lengkap.
Misalnya rekomendasi dari dewan pengurus pusat (DPP) masing-masing partai pengusung juga surat keterangan daftar pengurus partai di tingkat pusat. Namun untuk syarat calon masih ada yang kurang dan masih bisa dilengkapi.

sumber: http://www.radarsolo.co.id/daerah/sragen/1981-pasangan-yuni-dedy-target-menang.html
Read more

Kuttab, Sebuah Alternatif Kurikulum Pendidikan Abad Ini.!

SOLO, muslimdaily.com – Setiap pergantian Presiden, kurikulum sekolah selalu bergonta-ganti. Akibatnya guru ataupun siswa kebingungan dalam menerapkannya. Belum lagi kualitas yang dihasilkan jauh dari nilai-nilai norma yang ada. Rusaknya moral dari pelajar menjadi cermin dari kualitas kurikulum yang ada.

“Di negeri ini waktu menuntut ilmu terlalu lama dari SD hingga S1, namun output yang dihasilkan tidak ada. Mahasiswa lulus masih bingung mau apa” ujar Ustadz Budi Azhar saat menjadi pemateri di acara talk show “Parenting Nubuah, Sosialisasi Kurikulum Kuttab Metode Pendidikan Islam Tempo Dulu Yang Sederhana Namun Berkualitas”, di Gedung Graha Saba Buana, Solo pada hari Kamis (19/2).

Menurut ustadz yang juga ahli dalam sejarah ini, kesalahan dari pendidikan di negeri ini adalah sumber literaturnya. Sampai saat ini dunia pendidikan Islam kebingunan saat ditanya siapa bapak pendidikan Islam hari ini. Hal ini terjadi karena semua literatur yang digunakan dalam pendidikan Islam bersumber pada tokoh-tokoh yang bukan Islam. Sebut saja seperti Bapak Pendidikan Modern Jhon Amos Comenius yang menjadikan Al Kitab sebagai rujukannya. Anehnya dia lahir pada abad 15.
“Terus sebelum abad tersebut, disebut pendidikan apa?” ujar Ustadz Budi Azhar kepada seorang Doktor pendidikan yang juga kebingungan tak bisa menjawab.
Dalam penyampaiannya, kurikulum pendidikan saat ini sangat kacau dibanding beberapa waktu yang lampau. Dulu seorang guru sangat dihormati siswanya. Saat ini jika ketahuan guru galak maka dipenjara. Ada seorang guru gara-gara mencubit anak didiknya karena keterlaluan malah dilaporkan ke DPRD.

Budi juga mengkritik umat Islam yang sering berteriak Al Quran dan Sunnah menjadi rujukan segalanya, namun dalam hal kurikulum pendidikan hal itu tidak dilakukan bahkan ditaruh dibagian ujung. Ini sesuai dengan kondisi saat ini, sekolah-sekolah Islam yang ada, seperti SD lulus kelas 6 hanya mampu menghafal 1 juz saja.

Istilah tabularasa bahwa anak itu lahir seperti kertas putih juga sempat ia kritik. Pendapat demikian sangat kurang pas. Sebab seorang manusia atau bayi lahir sudah diberikan iman tidak kosong.
Hari ini dunia pendidikan lagi gencar-gencarnya membicarakan masalah karakter. Seperti sikap budi pekerti, peduli, kasih sayang dan lain sebagainya. Islam sangat menguasai terori tersebut. Berapa banyak ayat dalam Al Quran yang menjadi teori dalam hal tersebut begitu pula dalam hadits.
Banyaknya teori yang diberikan dalam mengajar menjadikan anak-anak kita terbebani. Harusnya kurikulum yang ada dibuat sesederhana mungkin sehingga anak-anak menjadi lebih cerdas dan pintar. Dalam sejarah Islam, ustadz Budi menerangkan bahwa saat kejayaan Islam, seorang remaja berusia 15 tahun yang bernama Muhammad Al Fatih, sudah menjadi wali kota . Dan saat usianya menginjak 22 tahun, ia menjadi khalifah. Ibnu Sina menjadi seorang dokter diusia 17 tahun. Begitu pula Imam Bukhori menjadi ahli Hadits pada usia 17 tahun.
“Di Indonesia lulus kuliah usia 20 tahun masih bingung mau melakukan apa,” ujar ahli sejarah Islam tersebut.

Untuk itulah melalui Kuttab Al Fatih yang didirikannya di Depok, Ustadz Budi Azhar ingin mengembalikan kejayaan kurikulum pendidikan Islam dimasa lalu yang telah terbukti banyak menghasilkan generasi-generasi pilihan.
Konsep utama dari Kuttab sendiri adalah anak diawali dengan mempelajari Al Quran dan Hadits mulai usia 5 hingga 14 tahun. Sedangkan ilmu lain seperti sains, matematika ataupun yang lainnya bisa disisipkan disela-sela pembelajaran wajib Al Quran dan Sunnah. Hingga kini Kuttab Al Fatih memiliki cabang 10 sekolah yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Namun dalam hal ini Ustadz Budi Azhar berpesan kepada siapa saja yang ingin mendirikan Kuttab agar jangan berpikir bisnis.

“Jika berpikir berapa lama BEP nya maka bertobatlah,” tambahnya.
Budi juga memberikan solusi terkait pembiayaan operasional yaitu dengan bekerjasama dengan para donatur agar mau mewakafkan dananya. Dimasa lalu pembiayaan Kuttab bisa melalui pendanaan dari pemerintah namun dana terbesar tetap dari wakaf.
Ia juga menambahkan gaji pengajar dimasa lalu mencapai 11 Dinar jika dirupiahkan mencapai 22 juta. Hal inilah yang bertolak belakang dengan kondisi saat ini. Sekolah-sekolah Islam yang katanya unggulan biaya masuknya mencapai belasan juta namun gaji dari gurunya tak sampai 1 juta kalah dibanding tukang bangunan.

Dalam sesi sebelumnya, Ustadz Syihabudin  Al Hafidz, Mudir Ponpes Isykarima Karanganyar yang menjadi pembicara pertama, memberikan meteri dengan tema “Peluang dan Harapan Masa Depan seorang Hafidz Quran.”
http://wahyuwidayat88.blogspot.com/2015/06/kuttab-sebuah-alternatif-kurikulum.html

Read more

Dari Kuli menjadi Ketua Komisi

Tak ada siapa-siapa di beranda depan rumah mertuaku, kecuali pohon rambutan yang menambah temaram halaman dan pohon mangga setinggi orang dewasa di sebelahnya tak terlalu rimbun. Malam ini, aku sudah berjanji bertemu dengan seorang guru selepas maghrib. Namun, waktu sudah beranjak pukul 19.30 WIB dan belum ada tanda-tanda kedatangannya. Tepat pukul 19.45 WIB, beliau datang, agak tergesa-gesa.

“Maaf mas, tadi di rumah ada tamu jadi nggak bisa tepat waktu,” ucapnya pelan.

“Nggak apa Bi, nunggunya juga belum lama ini” ucapku merendah.

Kami bicara empat mata malam itu, tentang perjalanan hidup beliau yang berliku-liku. Dalam penuturannya, beliau juga menyisipkan pelajaran dari setiap episode kehidupan yang beliau alami. Bagiku, beliau adalah seorang yang luar biasa.

“Saya anak tunggal dari keluarga sederhana,” ucapnya memulai cerita.
“Perjalanan pendidikan saya dimulai dengan sekolah formal di kampung. Untuk membiayai sekolah saya itu, seusai sekolah saya menjadi kuli apa saja. Hal itulah yang membuat saya kebal dengan bermacam-macam penderitaan. Alhamdulillah orang tua selalu medukung, mereka selalu mendoakan saya di setiap sholatnya.
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan pendidikan SMA dengan nilai lumayan memuaskan tanpa kendala, mungkin ini adalah berkah doa orang tua, Mas.” Ucapnya tersenyum.

Setelah kami menyeruput teh hangat yang disajikan istriku, beliau melanjutkan cerita.
“Setelah lulus SMA, tantangan semakin besar, saya mempunyai cita-cita agar bisa kuliah. bagaimanapun caranya. Dan inilah alasan kenapa saya menjadi kuli bangunan di Jakarta. Selain itu, saya pernah bekerja menjadi kuli apa saja. Mulai memanggul beras, mengantar belanjaan, dan lain-laiin. Semua itu bertujuan agar tiap bulan saya bisa menyisihkan uang untuk persiapan kuliah di tahun depan.

Berbekal sedikit tabungan itulah, pada tahun berikutnya saya bisa kuliah di Sekolah Tinggi Dakwah Al Hikmah Jakarta. Selanjutnya, saya harus berfikir lebih berat lagi, bagaimana untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Karena, tak sampai hati jika harus merepotkan orang tua di kampung.

Lagi-lagi, Allah mendengar doa orang tua saya. Saya bisa menjadi penjaga kebersihan di masjid kampus. Sesekali juga diminta untuk membantu tugas seorang dosen yang mungkin terenyuh melihat keadaan saya. Saya sering menyeleksi berkas-berkas mahasiswa yang bertumpuk-tumpuk, dan sebagai upahnya saya bisa mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Kedekatan dengan dosen inilah yang menjadi jalan bagi saya untuk bertemu dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istri saya. Ketika sedang menyeleksi berkas mahasiswi baru, mata saya tiba-tiba tertarik dengan sosok perempuan kelahiran Makasar. Seketika itu pula, hati saya berbisik, ‘Ya Allah, andaikan ia menjadi istri saya.’” Beliau terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“Allah mengabulkan doa saya, suatu saat dia menjadi ibu dari anak-anak saya.” Ucapnya tersenyum. Tak terasa, aku ikut terpengaruh. Dan, kami tersenyum bersama.
“Abi ingat kenapa memilihnya?” Ucapku seketika, sambil malu-malu.
“Setelah menikah saya memboyongnya ke kampung, saya mengajar di sebuah SMA di pinggiran kampung Kabupaten Tegal. Gaji pertama, jauh dari kata cukup. Di sinilah, bayangan tentang istri saya benar-benar menjadi nyata. Dia adalah perempuan yang kuat dalam menghadapi keadaan. Tidak banyak mengeluh. Sampai anak kami yang kelima lahir, tantangan berat dalam kehidupan kami masih terus berlanjut.
Hari-hari yang terasa paling berat buat kami adalah ketika anak pertama masuk kuliah. Semua asset yang kami miliki, dijual untuk menutupi segala kekurangan. Hingga uang tabungan habis. Tapi, lagi-lagi Allah mengabulkan doa orang tua saya di setiap sholatnya. Lantaran doa itu, kami selalu dilimpahi kemudahan dan ketenangan.

Setelah mengabdi selama belasan tahun menjadi guru, hizb mengamanahi saya untuk dicalonkan di ajang Pemilihan Legislatif. Tahun 2004 saya maju menjadi caleg dengan modal seadanya. Tim suksesnya adalah istri saya dan para relawan yang semangatnya luar biasa. Setiap melihat mereka memperkenalkan nama saya di kampung-kampung, maka semangat saya seolah bangkit, seakan saya dibakar oleh kata-kata mereka.
H. Wakhidin, BA
Dan, Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un, Allah menguji saya dengan jabatan baru sebagai seorang Anggota Dewan yang penuh dengan tudingan-tudingan miring di dalamnya. Dengan sekuat tenaga, saya berjuang untuk meluruskan itu. Caranya, dengan pengabdian kepada masyarakat. Yang tak kalah pentingnya, doa orang tua yang tulus telah menjadikan saya kuat untuk menjalani amanah ini.

Hingga akhirnya, di tahun 2009, Allah menguji saya lagi untuk yang keduakalinya. Saya ditunjuk untuk menjadi Ketua Komisi di DPRD Kabupaten Tegal.”

Kami meyeruput lagi teh hangat yang sudah dingin. Tanpa sadar, waktu menunjukkan jam 22.00 WIB. Beliau terdiam sebagai tanda menyudahi ceritanya.
“Terimakasih ceritanya, Ustadz. Insya Allah bisa menjadi pelajaran buat keluarga kami ke depannya”
Beliau berpamitan, waktu sudah malam.

“Jaga kesehatan antum, ya akh” pesannya pelan.
 Motor bebeknya melaju dari halaman, kemudian hilang ditelan tikungan. Saya baru menyadari, ada butiran bening dipipi, mata saya menjadi hangat. Betapa ada pelajaran berharga dari lelaki tua itu yang lama tak kusadari. Dan lelaki tua itu adalah guru saya yang sangat sederhana, Ustadz Wakhidin BA.[bersamadakwah.com]
Penulis : Achmad Miladi 

Read more

Sidang Tipikor Buktikan PKS dan LHI Bersih, TV One Stop Tayangan Live

Kesaksian Ahmad Fathanah pada sidang kasus suap impor daging sapi yang berlangsung Jum’at (17/5) siang di Pengadilan Tipikor bertolak belakang dengan opini yang dibangun sejumlah media selama ini. Fathanah mengakui hanya mencatut nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), padahal sebenarnya mereka tidak terlibat.

Pun dengan uang Rp 1 milyar yang diterimanya dan kemudian disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fathanah mengakui sebenarnya tidak ada tujuan memberikan uang tersebut kepada LHI. "Saya tidak katakan uang itu untuk Ustadz Luthfi. Saya cuma mengatakan kalau ada waktu bolehkah ketemu? Tapi tujuan untuk memberi itu enggak ada," kata Fathanah.

Lebih lanjut Fathanah mengatakan, rencana pemberian uang itu hanya sebagai bentuk wacana yang dia bicarakan sebelumnya bersama Dirut PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman.

"Tapi bukan untuk Ustadz Luthfi, karena dengan Ibu Elizabeth hanya berwacana saja seperti itu," tambahnya.

Sayangnya, mendapati kesaksian Fathanah membuktikan kasus suap impor daging sapi tidak ada kaitannya dengan PKS dan LHI, TV One dan Metro TV menghentikan siaran langsungnya. Pada berita-berita selanjutnya, di sore dan malam hari, kedua TV tersebut hanya menayangkan cuplikan-cuplikan “tertentu.”
Read more

Jalaluddin Rakhmat Calon Menteri Agama Jika Jokowi Jadi Presiden?


“sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi  dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”. ((al-Maidah: 81)
  • Dengan mengakomodasi golongan Syi’ah, maka ini berarti secara sadar, dan terencana ingin membangun konflik diantara elemen-elemen bangsa Indonesia.
  • Dengan keputusan Mega yang menjadikan Jokowi sebagai calon presiden, dan mendapatkan dukungan dari kelompok konglomerat Cina, seperti James Riyadi, yang nota bene, seorang pendeta Evengelis, dan murid dari Pendeta Pat Robertson, di Amerika, maka sejatinya akan menciptakan konflik antara kepentingan kelompok Kristen, konglomerat Cina, dan sekarang ditambah dengan Syi’ah.
  • Tetapi, Muslim Indonesia diberi ‘PR’ Syi’ah oleh PDIP dan Jokowi, agar energy umat Islam habis hanya untuk mengurusi masalah ‘Syi’ah’. Sehingg kaum Muslimin lupa  dengan masalah utama yaitu menghadapi ancaman nyata dari kalangan Kristen dan konglomerat Cina, karena telah tertutup isu tentang Syi’ah yang telah menguras energy itu tadi. Sehingga, kelompok  Kristen dan konglomerat Cina, semakin leluasa dengan dukungan Jokowi menguasai Indonesia, secara ekonomi dan politik.
  • Dalam Pengajian di Masjid Al-Azhar Jakarta, Dr.Zain al-Najjah mengatakan, “Partai sekuler dengan mengajukan calon presiden ‘Muslim’, tujuannya untuk mengelabui dan menipu para pemilih Muslim.”

Beredar berbagai informasi yang sangat menarik. Tentang kabinet Jokowi, jika ia menjadi presiden nanti. Informasi yang beredar itu, membuat miris.
Sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rakhmat menjadi menteri agama.
Sekarang, Jalaluddin Rakhmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rakhmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia.
Dalam hal ilmiah akademis saja Jalaluddin Rakhmat telah dikenal melakukan kebohongan-kebohongan public. Hingga LPPIMakssar menulis data dengan bukti-bukti berjudul Mapping/ Pemetaan Kebohongan Publik Jalaluddin Rakhmat http://www.nahimunkar.com/mapping-pemetaan-kebohongan-publik-jalaluddin-rakhmat/.
Bagaimana pula bila kementerian agama negeri terbesar jumlah muslimnya sedunia ini lantas dipegang Jalaluddin Rakhmat, orang yang di kalangan akademisi telah dinilai ada semacam cacat akademis seperti itu?
Ditambah lagi, Jalaluddin Rakhmat adalah pentolan aliran sesat Syi’ah, yang aliran itu kini telah terbukti menodai agama. Di ataranya, tokoh Syiah Sampang Tajul Muluk terbukti menodai agama dengan mengaggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Maka Tajul Muluk divonis penjara 2 tahun oleh pengadilan negeri Sampang karena terbukti melanggar pasal 156a KUHP tentang penodaan agama. Kemudian Tajul Muluk naik banding, lalu divonis pengadilan tinggi Surabaya 4 tahun penjara. Kemudian Tajul Muluk mengajukan kasasi, dan ternyata ditolak MA, maka harus menjalani hukuman penjara 4 tahun karena terbukti menodai agama yakni menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. (lihat kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-mulu http://www.nahimunkar.com/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang/). Juga artikel Kasasi Tajul Muluk Ditolak MA: Bukti Ajaran Syiah Menodai Agama – See more at: http://www.nahimunkar.com/kasasi-tajul-muluk-ditolak-ma-bukti-ajaran-syiah-menodai-agama/#sthash.qnJec0Ea.dpuf
Orang masih berkilah, itu kan Syiah Sampang, kalau Syiah di lain tempat kan tidak begitu.
Apabila masih ada yang berkilah bahwa itu hanya Tajul Muluk saja, sedang syiah yang lainnya di Indonesia ini tidak begitu, maka coba lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari Ijabi bahkan didukung pula oleh penghalal homoseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013). Hingga ada surat terbuka untuk presiden mengenai kasus itu. Inilah suratnya.( Jalal Tuduh MUI Dusta, Oknum Syiah Kafirkan Sahabat By nahimunkar.com on 17 September 2013  http://www.nahimunkar.com/jalal-tuduh-mui-dusta-oknum-syiah-kafirkan-sahabat/)
  Juga silakan  lihat link ini Kasasi Tajul Muluk Ditolak MA: Bukti Ajaran Syiah Menodai Agama – See more at:· http://www.nahimunkar.com/kasasi-tajul-muluk-ditolak-ma-bukti-ajaran-syiah-menodai-agama/#sthash.p0JhOrx3.dpuf. – See more at: http://www.nahimunkar.com/fatwa-sesatnya-syiah-mui-masih-tunggu-apa-lagi/#sthash.183vFLdC.dpuf
Di samping itu secara terbuka, Haidar Bagir yang disinyalir sebagai pentolan syiah juga menuduh adanya tahrif  Al-Qur’an (perubahan teks  dari aslinya) di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“.
- See more at: http://www.nahimunkar.com/ini-pernyataan-kh-maruf-amin-tentang-quraisy-shihab-pendukung-syiah/#sthash.lcf3N2az.dpuf
Dari segi ancaman keamanan bagi bangsa Indonesia, Syiah yang masih minoritas di Indonesia saja telah terbukti berani membunuh umat Islam yakni warga NU (Nahdlatul Ulama) di Puger Jember. (lihat: Tahun Lalu Syiah Puger Jember Membacok, Kini Membunuh By nahimunkar.com on 12 September 2013 http://www.nahimunkar.com/tahun-lalu-syiah-puger-jember-membacok-kini-membunuh/

Watak dendam Syiah terhadap Umat Islam itu buklan hanya disandang oleh manusia Syiah di Puger Jember yang sampai membunuh orang Muslim itu, namun pentolan syiah, Jalaluddin Rakhmat sendiri telah mengancam umat Islam. (Ancaman Jalaluddin Rakhmat untuk Indonesia http://www.nahimunkar.com/ancaman-jalaluddin-rakhmat-untuk-indonesia/ )
Kenyataan ini menunjukkan, Umat Islam Indonesia bahkan bangsa ini pada umumnya berhadapan dengan gambaran yang sangat perlu disikapi dengan cermat, hati-hati dan benar-benar perlu munajat berdoa kepada Allah Ta’ala agar berkenan menyelamatkan Umat Islam yang jumlahnya terbesar di dunia ini. Bahaya syiah telah di depan mata.
Gambaran yang dimaksud, beritanya sebagai berikut.
***
Jokowi Presiden, Jalaluddin Rakhmat Menteri Agama
JAKARTA (voa-islam.com) – Beredar berbagai informasi yang sangat menarik. Tentang kabinet Jokowi, jika ia menjadi presiden nanti. Informasi yang beredar itu, membuat miris. Karena akan mempunyai dampak yang sangat serius bagi stabilitas politik, dan integrasi bangsa.
Dari informasi yang beredar itu, dan sifatnya inside sekarang sudah berlangsung diskusi di internal orang-orang yang dekat dengan Jokowi tentang kabinet bayangan.
‘Kabinet bayangan’ itu, bukan hanya duduknya tokoh-tokoh yang dipilih akan menjadi ‘nahkoda’ di bidang politik, ekonomi, dan pertahanan semata, tetapi yang paling peka, menyangkut kepentingan umat Islam. Di  mana, sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rakhmat menjadi menteri agama.
Sekarang, Jalaluddin Rakhmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rakhmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia. Jalal terkenal ahli komunikasi dan akan sangat berpengaruh dilingkungan PDI.
Dengan masuknya Jalaluddin Rahmat di dalam kabinetnya Jokowi itu, membuat umat Islam Indonesia akan menjadi ‘letih’, energinya habis disibukkan oleh ‘PR’ (pekerjaaan rumah), berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian.
Seperti dikemukakan oleh mantan Ketua YLBHI, dan sekarang Ketua Bidang Hukum FPI, Munarman SH, mengatakan, masalah dan tantangan yang timbul jauh lebih besar, dibandingkan dengan kemampuan dan kekuatan umat Islam. Maka umat Islam tidak akan pernah bisa maju, karena terus disibukkan dengan adanya masalah-masalah yang timbul.
PDIP dikenal sebagai gudangnya kelompok ‘Kristen’, dan mereka menjadi ‘think-thank’ di dalam PDIP. Sangat wajar, jika PDI selalu berseberangan dengan kepentingan umat Islam. PDIP pernah ‘walkout’ saat membahas UU Perkawinan, UU Sisdiknas, dan sejumlah undang-undang lainnya. Karena, bukan semata-mata, PDIP sebagai partai sekuler, tetapi sudah menjadi kendaraan kelompok Nasrani.
Sekarang, PDIP mengakomodasi golongan Syi’ah, dan pasti akan menjadi masalah ‘PR’ baru bagi umat Islam. PDIP tidak memahami ‘mainstream’ (arus utama) Muslim di Indonesia adalah golongan Sunnah wal jamaah, dan bermazab Syafi’i. Dengan mengakomodasi golongan Syi’ah, maka ini berarti secara sadar, dan terencana ingin membangun konflik diantara elemen-elemen bangsa Indonesia.
Dengan keputusan Mega yang menjadikan Jokowi sebagai calon presiden, dan mendapatkan dukungan dari kelompok konglomerat Cina, seperti James Riyadi, yang nota bene, seorang pendeta Evengelis, dan murid dari Pendeta Pat Robertson, di Amerika, maka sejatinya akan menciptakan konflik antara kepentingan kelompok Kristen, konglomerat Cina, dan sekarang ditambah dengan Syi’ah.
Tetapi, Muslim Indonesia diberi ‘PR’ Syi’ah oleh PDIP dan Jokowi, sehingga energinya habis hanya untuk mengurusi masalah ‘Syi’ah’. Mereka akan lupa  dengan masalah utama mereka. Di mana sekarang ini kaum Muslim menghadapi ancaman nyata dari kalangan Kristen dan konglomerat Cina, serta tertutup isu tentang Syi’ah. Sehingga,kelompok  Kristen dan konglomerat Cina, semakin leluasa dengan dukungan Jokowi menguasai Indonesia, secara ekonomi dan politik.
Sementara itu, dalam acara ‘Pengajian Politik Islam’ (PPI), Dr.Zain al-Najjah, mengatakan, ‘Partai sekuler dengan mengajukan calon presiden ‘Muslim’, tujuannya untuk mengelabui dan menipu para pemilih Muslim”, tegasnya, Minggu, 16/3/2014. (afgh/dbs/voa-islam.com) Senin, 16 Jumadil Awwal 1435 H / 17 Maret 2014 09:49 wib
***
Cukuplah ayat Allah sebagai rujukan:
 “Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)
Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, Allah berfirman:
 “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.
Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an)” (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14)
(nahimunkar.com)  


Read more
 
Powered by Blogger