Featured

Tampilkan postingan dengan label Remaja Corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja Corner. Tampilkan semua postingan

AKU TERPAKSA MENIKAHINYA . . .


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami

Read more

Teruntuk saudaraku.....(Menikah, Fitrah dan Ibadah)


(Akhi....selamat menantikan hari yang bahagia itu....!!!)
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. 

“Menikah, adalah fitrah, merupakan ibadah tempat menuai berkah” 

 Banyak hal yang bisa menjadi motivasi seseorang untuk menikah, ada yang mengatas namakan cinta, sebagai tempat melabuhkan hatinya, belahan jiwa untuk berbagi suka dan duka, sebagai sarana meneruskan keturunan, untuk menyalurkan hasrat manusiawinya, dan lain sebagainya. Semua itu tentu tidaklah salah, karena memang hanya dengan menikahlah hal itu menjadi halal, legal, bermartabat dan terhormat. Namun apakah hanya sampai disitu nilai sebuah pernikahan? Tentu saja tidak, karena sepasang burung pun melakukannya, mereka bahu membahu membangun sarangnya, bergantian mengerami telurnya, setiap pagi induknya mencari makan untuk anak-anaknya hingga mereka bisa terbang dan sanggup mencari makan sendiri. 

Subhanallah burung-burung itu telah mengajarkan arti kehidupan pada kita. Rasulullah, teladan kita yang mulia telah mengajarkan bahwa menikah itu adalah ibadah. Kita sering mendengar pernyataan seperti itu, tapi apakah kita benar-benar memahaminya. Allahu’alam. Sungguh dibalik pernyataan sederhana itu terdapat banyak hikmah yang harus selalu kita gali, kita renungi, kita patri dalam hati, dan semoga bisa menjadi penghias diri, sebagai bekal di hari nanti. Menikah itu ibadah, tidaklah Allah menciptakan diri ini melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya. Seluruh gerak kita sepatutnya kita niatkan untuk beribadah kepadaNya. Seluruh khilaf kita sepatutnya kita mohonkan ampun padaNya. Seluruh nikmat yang kita dapat sepatutnya kita syukuri dengan memuji namaNya. 

Setiap ujian yang datang sepatutnya kita hanya memohon pertolonganNya. Menikah itu ibadah, karena kecintaan kita pada istri akan mendorong kita untuk membimbingnya pada kebaikan yang akan menghadirkan kecintaan Allah pada keluarga kita. Adakah cinta yang lebih patut kita harapkan dari cintanya Sang Maha Pencinta. Ketika suami istri saling menggenggam tangan, maka berguguranlah dosa-dosa mereka dari sela-sela jari. Adakah yang lebih beruntung dari orang-orang yang diampuni dosanya. Ketika istri dapat menyenangkan suaminya sehingga suaminya ridho, maka dibukalah pintu-pintu surga agar dia dapat memasukinya dari manapun dia suka. 

Subhanallah. Menikah itu ibadah, Allah akan menolong hambaNya yang menikah karena ingin menjaga diri dari perbuatan zina. Jikalau menikah itu hanya untuk menyalurkan hasrat seksualnya, bukanlah tidak mungkin jika belum terpuaskan hasratnya dia akan mencari pelampiasan lain yang tidak halal. Maka jangan heran kalau kita pernah mendengar seorang aktifis dakwah yang berselingkuh dengan tetangganya, naudzubillah. Sungguh mulia ketika Rasulullah mengatakan menikah itu akan menjaga kehormatan kita, beliau tidak mengatakan bahwa menikah itu akan menjadi tempat menyalurkan hasrat kita. Meskipun pelaksanaannya sama sungguh nilainya sangat jauh berbeda, Allahu Akbar. Menikah itu ibadah, insyAllah kita akan diamanahkan anak-anak yang akan menjadi hiburan bagi orang tuanya, ia nya adalah rizqi dari Allah sebagai pengikat hati orang tua. Membinanya bukanlah suatu beban melainkan sebuah amanah indah yang harus kita tunaikan, karena kebaikan dan doanya akan menjadi deposito pahala yang tak pernah putus hingga kita tiada. Maka bersyukurlah pada Allah atas segala nikmat yang bahkan kita tidak mengetahuinya. 

 Menikah itu ibadah, maka syaitan akan mengerahkan seluruh bala tentaranya untuk menghalang-halangi setiap usaha anak manusia untuk melaksanakan dan mempertahankan pernikahan. Pernikahan yang penuh barokah adalah benteng iman yang paling kokoh, melindungi orang-orang di dalamnya dari gempuran hizbu syaitan yang kian dahsyat di saat kiamat sudah dekat. Karena berarti realisasi janji syaitan untuk membawa pengikut sebanyak-banyaknya semakin mendekati dead line. Selain berharap hanya pada pertolongan Allah, dituntut kesabaran dan keikhlasan kita dalam mengarungi bahtera yang kadang bergelombang dan berbadai ini. 

Menikah itu ibadah, tapi menikah bukanlah puncak prestasi yang patut kita bangga-banggakan, janganlah sampai kita merasa diri lebih baik dari orang lain karena kita sudah menikah. Marilah kita berlindung pada Allah dari tipu daya syaitan seperti ini. Sepatutnya pernikahan itu menjadi sebuah madrasah, media dakwah dan tarbiyah. Menjadikan kita semakin merasakan Kebesaran Allah, menjadikan tumbuhnya cinta dan kasih sayang semakin menjauhkannya dari hubbud dunya, membuat kita semakin mengerti akan kegelisahan saudara kita. Sehingga keberkahannya akan beresonansi pada orang-orang di sekitarnya. 
Wallahu alam bish-shawab…
Read more

PKS

(ini ada artikel ngambil dari FB temen....) Just Kidding aja ya.......
Ada sebuah cerita nih…hehe… Semoga sahabat semua bisa mengambil setiap hikmah yang terdapat cerita ini.Semoga saja setelah membaca cerita ini bisa menimbulkan semangat baru.Semangat menuju sebuah perubahan yang lebih baik. Ceritanya tentang kehidupan sepasang kekasih.Begini nih ceritanya. ..

Ada seorang ikhwan yang PKS ( PriaKeren Sholeh ) dan akhwat yang PKS( Perempuan Kerudung Sholehah ),mereka saling mencintai,tapi karena mereka belum siap menikah akhirnya mereka rajin melakukan PKS ( Puasa Kamis Senin ).Merekapun rajin berdoa agar Allah mengizinkan mereka berjuang bersama dalam da’wah ini.Akhirnya beberapa bulan kemudian sang ikhwan pun sudah siap menikah dengan akhwat tersebut.Dan ikhwan itupun sudah PKS ( Pengen Khitbah Secepatnya ).Akhirnya mereka pun menikah dengan PKS ( Pernikahan cuKup Sederhana ).

Setelah menikah,mereka membeli sebuah rumah di Jl.KEBENARAN,komplek penuh keADILan,gang keSEJAHTERAan no 8 RT.08 RW.08. Ternyata rumah mereka sangatBERSIH dan merekapun sangat PEDULI kepada para tentangganya sehingga mereka sangat disenangi di tempat tinggal mereka.

Mereka pun menjadi keluarga yang PKS ( Penuh Kasih Sayang ).Mereka selalu berdoa agar PKS ( Punya Keluarga Sakinah ).Akhirnya beberapa tahun kemudian mereka PKS ( Punya Keturunan Sholeh ).Anak itu pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang PKS ( Pintar,Kreatif,Sholeh ).

Pasangan suami istri ini selalu berdoa agar anaknya kelak bisa PKS ( PunyaKehidupan Sejahtera ).Dan tak luput pula di dalam sujudnya mereka selalu berdoa agar menjadi PKS ( Pemilik Kerajaan Surga )...*

*)Bagi akhwat yang masih bingung, pilihlah PKS (Pria Kaya Saya).. hehehehe
Read more

Memilih Pergaulan

Nggak gaul itu aib. Tapi salah bergaul itu musibah. Semenjak ada bunyi celaan "gak gaul lo...", dan slogan "anak gaul" jadi ngetren, semenjak itu anak remaja tidak ingin ketinggalan dalam pergaulan. Label "anak gaul" tersemat bukan cuma untuk mereka yang punya teman banyak, tapi lebih pada mereka yang eksis nongkrong di mal-mal, cafe, dan tempat keramaian.

Pergaulan itu suatu kemestian. Setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan itu setelah guru Sosiologi berkata bahwa manusia itu makhluk sosial. Manusia membutuhkan manusia lainnya. Manfaat pergaulan tidak perlu dijabarkan lagi. Bergaul itu naluri manusia. Tapi yang perlu diwanti-wanti adalah dengan siapa kita bergaul? Haruskah kita memilih-milih teman dalam pergaulan?

Pentingnya Memilih Teman Bergaul

"Berteman jangan suka milih-milih." Kata-kata itu tepat untuk orang yang sombong yang hanya mau bergaul dengan orang yang ia pikir selevel dengan dia. Tapi sejatinya kata-kata itu tidak sepenuhnya benar. Kita juga harus menyeleksi teman bergaul. Hanya kriterianya yang harus tepat. Jangan gunakan kriteria yang menjerumuskan kita menjadi orang yang sombong dan tidak baik. Tapi gunakan kriteria yang akan membuat kita menjadi anak yang baik.

Sombong kalau kriteria teman kita adalah anak orang kaya saja (udah sombong, matre pula). Sombong kalau kriteria teman kita itu yang ganteng atau cantik saja. Intinya, kalau kita mengambil standar duniawi sebagai teman, maka kita bisa termasuk sombong. Dalam hadits, Rasulullah mendefinisikan sombong sebagai merendahkan manusia. "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)

Memang pertemanan itu ada tingkatan-tingkatannya. Ada yang hanya kenalan. Ada yang teman biasa seperti teman kelas, teman les. Ada juga teman yang lumayan dekat yang kita sering berinteraksi dengannya, ini yang disebut teman bergaul. Dan ada juga yang lebih dekat lagi yang kita sebut sebagai sahabat. Dalam berteman, jangan sampai kita merendahkan orang lain. Janganlah kita hanya mau punya teman bergaul dari orang-orang yang kita pilih berlandaskan keduniaan dan menghindari pergaulan dengan orang lain karena kita meremehkan orang tersebut.

Bagaimana kriteria yang menjadikan kita anak yang baik? Pastinya, kriteria yang berdasarkan pada kebaikan. Maksudnya, kita memilih teman bergaul yang kita sering berinteraksi dengan mereka dari kalangan orang-orang yang berakhlak baik, sholeh, rajin belajar, gemar menabung, suka menjahit dan memasak... Ups kebanyakan...

Pergaulan itu bisa menularkan perilaku seseorang kepada temannya. Tak sedikit anak baik-baik yang terjerat narkoba hanya karena salah memilih pergaulan. Seorang anak dari keluarga yang tidak merokok bisa jadi perokok karena bergaul dengan teman-teman perokok. Dan sebagaimana watak buruk itu menular, watak baik pun bisa menyebar melalui pergaulan. Itulah makanya Rasulullah berpesan untuk memperhatikan teman bergaul.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Dalam menjelaskan hadits ini Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini berbicara tentang keutamaan bergaul dengan orang-orang yang soleh, pelaku kebaikan, tata krama, akhlak mulia, wara’, berilmu, dan mempunyai sopan santun. Sebaliknya, hadits ini melarang kita bergaul dengan pelaku kejahatan, pembuat bid‘ah, suka menggunjing, berbuat dosa, dan sikap tidak terpuji lainnya.”

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

Imam Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)

Kalau di sekolah ada ekstrakurikuler Rohani Islam, inilah kumpulan anak-anak sholeh yang sangat direkomendasikan jadi teman bergaul kita. Banyak sifat baik di komunitas ini yang bisa tertular pada kita.

Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Hati-hatilah kalian dalam memilih teman, sesungguhnya teman adalah bekal di dunia dan akhirat.”

Merengkuh Nikmatnya Ukhuwah

Sejatinya mukmin itu bersaudara. Ukhuwah Islamiyah itu ada di antara umat muslim. Tapi ukhuwah itu bisa menjadi tak terasa ada bila sesama mukmin tidak saling akrab karena Allah swt.

Bersahabat dengan orang yang sholih, akan membuat kita merasakan indahnya ukhuwah Islamiyah. Dengan ukhuwah, kita bisa merasakan lezatnya keimanan. Saat keimanan kita turun, ada yang menasehati dan menyemangati. Saat kita merasa butuh, ada yang memberikan bantuan karena Allah swt. Pertolongan karena Allah terasa tulus karena pertolongan itu didasari niat yang lurus, bukan karena ada maunya.

Sebagai anak muda, ada peluang yang besar untuk mendapatkan naungan di akhirat, di mana saat itu tidak ada naungan selain naungan dari Allah swt. Abu Hurairah r.a. mewartakan bahwa Nabi Saw bersabda, ada 7 kategori orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. Salah satunya adalah pemuda yang menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah swt. Kategori lainnya adalah orang dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula.

Selain itu, orang yang merasakan manisnya ukhuwah Islamiyah, akan berdiri di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya. Sebuah hadist dari Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda: "Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi & bukan syuhada, tapi para nabi & syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa mereka & bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka." Rasulullaah saw bersabda, "Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan nasab & tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi Allah mereka adalah cahaya & mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut.Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih" Kemudian Rasulullaah saw membacakan firman Allah: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (TQS Yunus :62)

Bagaimana kalau salah bergaul? Allah telah menggambarkan keadaan orang-orang yang salah bergaul dalam Al-Qur'an. Keadaan mereka di neraka saling menyalahkan satu sama lain.

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS AlAhzab ayat 66-68)

Jadi, yuk bergaul dengan orang-orang yang tepat. (http://www.islamedia.web.id)
Read more

Anak Para Kader PKS Berlomba-Lomba Menjadi Hafidz Al-Qur’an

dakwatuna.com – “Dik, lagi apa?” tanya Ust Asfuri pada seorang bocah di Masjid Al Hikmah Mampang Jakarta di bulan Ramadhan 2 tahun yang lalu.
“Lagi dengerin tilawah Pak” jawab si bocah sambil mengutak-ngatik HP di serambi dekat pagar masjid lantai 2.
“Siapa namamu?”
“Abdurrahman” jawabnya.
“Anak siapa, Dik?”
“Ust Musyafa”
“Dah berapa juz hafalannya?”
“14 juz”.
Dan kini Abdurrahman telah menjadi hafidz Al Qur’an. Dialog di atas adalah gambaran bagaimana seorang bocah yang dua tahun lalu baru hafal 14 Juz, tahun ini sudah hafal 30 juz. Menurut Ust Musyaffa Ahmad Rahim yang merupakan fungsionaris PKS kepada redaksi dakwatuna.com, anaknya telah dinyatakan lulus seleksi Hifdzul Qur’an 30 juz sehingga berhak untuk ikut khataman dan akan mendapat sanad, insya Allah. Beliau berharap anaknya supaya menjadi Ahlul Qur’an.
Kisah di atas baru sekelumit kisah seorang anak kader PKS yang menjadi hafidz Al Qur’an. Dan ternyata hafidz Al Qur’an seperti menjadi impian dan cita-cita banyak anak kader PKS lainnya. Sebelumnya kita sudah mengetahui beberapa contoh lain yang anak-anaknya menjadi Hafidz Al-Qur’an. Di antaranya keluarga H Mutamimul Ula dan Wirianingsih yang ke-10 anaknya menjadi penghapal Al-Qur’an. Dari kesepuluh putranya, empat putranya hafal 30 juz, ada yang hafal 29 juz, 15 juz, 13 juz, sembilan juz, dan dua juz bagi dua putranya yang masih duduk di bangku SDIT Mampang Jakarta Selatan. Selain itu juga anak dari Budi Dharmawan dan Almarhumah Yoyoh Yusroh juga merupakan Hafidz Al-Qur’an.
Dan kini, sebut saja salah satunya di daerah kota Bekasi. Pada saat pengurus setempat menggelar Mukerda PKS Kota Bekasi Mei 2011, mereka memberikan penghargaan kepada 19 anak kader PKS se-kota Bekasi yang telah menyelesaikan hafalan (hafidz) Al-Quran lengkap sebanyak 30 juz. Subhanallah! Dari data yang kami terima, lima anak di antara mereka berasal dari Pondok Gede, yaitu:
  1. Ahmad putra dari Ust. Dede D
  2. Ahmad Usamah putra dari Ust. Martri Agoeng
  3. Ghifari putra dari Ust. Arifinto
  4. Hasan putra dari Ust. Dede D
  5. Salsabila putri dari Ust. Abdurrahman Tamin
Menurut salah satu pengurus PKS Pondok Gede, ke-19 anak itu hanya yang menerima penghargaan. Dan 1-2 bulan setelah itu, di Pondok Gede saja bertambah 2 anak kader PKS lagi yang menyelesaikan 30 Juz. Subhanallah wal hamdulillah.
Read more

Fanatisme Suporter Bola


Pernah melihat reaksi suporter sepak bola saat tim yang dijagokannya kalah? Jika kita lihat fakta di negerinya Wiro Sableng ini tak akan asing dengan ulah sebuah kelompok suporter bola yang luar biasa…ancur! Mulai dari merusak pagar, konvoi sampe bikin lalu lintas mampet, tak lupa sebagai ibadah rutinnya tawuran sampai babak belur. Hal ini pasti tak akan terjadi jika tanpa sebab. Juga dampak hebat dari sebuah fanatisme terhadap sebuah golongan ini mampu membuat mereka berjuang mati-matian mengalahkan semangat para pejuang 45. Masih akrab dalam ingatan kita kasus suporter bola yang meninggal karena tersangkut kabel listrik kereta api. Juga dalam beberapa kasus tawuran, tak jarang muncul korban jiwa…

Ada yang rela jauh-jauh datang, mengecat tubuhnya untuk mencari sensasi, dandan gila-gilaan maksudnya bukan dandan seperti orang gila, sampai rela mati demi membela tim kesayangan. Padahal jika mereka sudah memperoleh hasil pertandingan bahwa tim andalan mereka menang, lalu apa yang akan para suporter dapat? Untuk bisa hadir melihat secara langsung saja mereka harus membeli tiket dengan uang mereka, bukan tim kesayang mereka. Padahal tim yang dijagokan bermain bola tak lain karena demi mencari uang, bukan membela suporter mereka. Tentu anda lebih tahu jawabnya. Saat masuk arena pertandingan penuh sesak dan tak mungkin keluar jika pengin nonton sampe kelar, usai gitu jika kalah dilanjutkan dengan prosesi tawuran dan jika menang berlangsung dengan akad konvoi (kawinan, kaleee..!). pulang malam trus kecapekan deh ujung-ujungnya besok kesiangan. Sholat lima waktu atau bahkan sempatkah ngaji? Ya, amplop eh, ya ampun! …

terlebih sebentar lagi pada tahun 2010 ini akan diselenggarakan World Cup di Afrika Selatan. …perlu diketahui oleh semua muslim terutama, bahwa perhelatan hiburan akbar semisal ajang miss Universe maupun ajang olahraga ini jangan sampai melenakan kita dari perjuangan menuju tegaknya kemuliaan Islam. Terlebih ini adalah agenda Barat untuk memalingkan kita dari cahaya Islam. Sehingga sebagian dari kita lambat laun seperti tertawa di atas penderitaan saudara sesama muslim kita. Na’udzu billah! Aremania dan Bonekmania saja sudah cukup jadi fakta upaya separatisme, paham pemisahan antar golongan, dalam negeri kita secara menyelubung yang aman dari sentuhan hukum. Membuat generasi kita saling bermusuh-musuhan tanpa ada sebab yang jelas. Kisah yang mengenaskanpun tejadi saat pertandingan Persebaya diselenggarakan ada orang yang kecopetan dan teriak minta tolong. Namun naas, hanya karena KTP berdomisili Malang, nasib malang justru menimpa korban pencopetan tadi. Massa Bonek yang memang mengidap virus benci stadium III terhadap Aremania langsung menghujani pukulan penuh hasrat tanpa ampun. Sudah jatuh, tertimpa gajah! udah kecopetan, disuguhi bogem mentah. Akankah generasi kita mengalami krisis kepribadian yang akan menjadi sasaran empuk para penanam paham yang buruk…?

Ada peran kapitalis di balik itu semua

Coba deh, kita pikirkan baik-baik bahwa ketika semua perhatian kaum muslim dan sedunia tertuju pada perhelatan akbar semacam itu tentu akan mendatangkan pemasukan uang yang luar biasa besar baik bagi pihak penyelenggara acara, para pemain serta manajer, pihak sponsorship yang ambil bagian untuk mempromosikan produknya, dan juga pihak tak terduga yang turut mensaranai suksesnya acara tadi. Seperti pihak televise yang menayangkan, tempat penginapan dan wisata di daerah strategis sana, atau bahkan mulai dari pihak Negara yang dibajiri pemasukan dan devisa hingga tukang parkirnya. Coba kita tengok jika ada pertandingan sepak bola, dari sekian panjang rentetan kendaraan bermotor yang diparkir, berapa rupiah yang bisa diraup. Bahkan tarif parkir satu sepeda motor saja Rp 4.000,- serta tak jarang berjajar hingga memenuhi sepanjang jalan di areal stadion. Tentu dari sebuah olahraga yang mubah ini mampu menarik perhatian juga bagi pihak kapitalis, pemilik modal, pencari keuntungan sebanyak mungkin. Pasti sadar atau tidak, pihak konsumenlah yang jadi sasaran empuk lintah hijau ini karena satu-satunya orientasi diadakannya acara sensational semacam ini tak lain hanyalah uang. Jika bukan karena uang, lalu untuk apa lagi mereka adakan World Cup dengan dana spektakuler? Ya pasti balik modal, lah.

World Cup-mu Mengalihklan Duniaku

Ada campur tangan musuh Islam di balik itu semua…World Cup sendiri merupakan agenda untuk menghapus perhatian kaum muslim dan dunia akan penindasan yang terjadi di negeri-negeri kaum muslim tinggal. Di sebagian negara Eropa dan dunia yang masih berutang banyak budi terhadap peradaban Islam yang turut membebaskan mereka dari kedoktrinan dan masa kegelapan (The Dark Ages) seperti Turki, Inggris, dan sebagainya; justru umat muslim di sana diintimidasi dengan alasan war on terrorism. Konyolnya lagi di negeri Barat sebagai penjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia) terutama dalam hal beribadah sesuai kepercayaan masing-masing, seperti Amerika dan Eropa, justru di sana para muslimah berkerudung dan berjilbab diintimidasi dan dirazia, para pengemban dakwah dicurigai hingga disiksa dalam penjara, bahkan para generasi muslim di sana dikerdilkan semangat dan pemikiran Islam-nya. Jadi, siapa sang teroris sesungguhnya?

Di Indonesia di mana kaum muslim diserang kaum kafir dalam hal pemikiran, maka dakwah pemikiran menjadi urgensitas yang jauh lebih penting untuk menyadarkan masyarakat yang masih belum sadar atas kewajibannya sebagai seorang muslim, tak harus dengan fisik karena negeri kita bukan dalam suasana konflik. Tak hanya itu tapi juga membebaskan masyarakat dari yang namanya penjajahan dan penghambaan antar sesama makhluk, lalu mengalihkannya menuju pengahambaan terhadap sang Pencipta Kehidupan yang ada di langit dan bumi, Dia-lah Allah SWT.

Jauh lebih berharga jika segala yang Allah anugrahkan pada kita termasuk waktu, tenaga, pikiran, hingga materi kita; dapat kita pergunakan untuk membela kemuliaan Islam. Bukan terbuang sia-sia demi olahraga yang nyatanya tak memberi kemaslahatan sama sekali bagi umat. Bahkan adzab Allah akan menimpa kita jika justru muncul banyak kemungkaran akibat segala pontensi dari-Nya kita pergunakan di jalan yang dibenci-Nya. Seperti ash shabbiyah (membangga-banggakan golongan hingga berlebihan. Melebihi loyalitas kita pada Allah SWT dan Rasul-Nya), hingga muncul kerusakan, tawuran, dan sebagainya.

Sudah saatnya umat Islam bersatu menegakkan keadilan dan tampil memimpin dunia. setelah cukup 86 tahun terjajah ideologi kufur yang nyatanya hanya membawa kita dari suatu penjajahan menuju penjajahan bentuk lain. Bumi nusantara kita pernah terjajah oleh kolonial dari Eropa berabad-abad. Usai dijajah Belanda dan sekutu selama tak kurang 350 tahun, nusantara juga dikaruniai penjajahan bangsa Jepang. Lalu kita dimerdekakan dari penjajahan fisik menuju penjajahan yang lebih halus. Lalu, tidak cukup sadarkah kita dengan segala keburukan, kediktatoran, dan anarkisme yang ditimbulkan Uni Soviet hingga PKI dengan ideologi Komunis-Sosialisme yang resmi bubar tahun 1991 lalu? Masih terpejamkah kesadaran kita akan kebobrokan Amerika Serikat dan sekutu yang menghasilkan krisis multidimensional-nya lewat berbagai ide (kesetaraan gender, liberalisme, HAM, demokrasi, dsb.) yang bersumber dari ideologi Sekular-Kapitalisme? Sudah saatnya dunia memberi kesempatan pada ideologi Islam untuk tampil kembali memimpin dunia. Tak cukupkah bukti; bahwa Islam pernah memimpin hingga 2/3 dunia (Afrika, sebagian Eropa, hingga Asia paling timur) selama 13 abad (abad 7 M-tahun 1924 M) berturut-turut lamanya dalam kesejahteraan? Mampu mensejahterakan dan mempersatukan seluruh umat dari berbagai latar belakang ras, warna kulit, hingga agama; sesuai syari’ah-nya yang rahmatan lil ‘alamin. (sumber kerahmatan bagi sleuruh dunia) tak hanya rahmatan lil muslimin (kebaikan bagi kaum muslim.) ~Islamuda~
Read more

Gaul tapi Nyar'i dan Mabdai

Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi. Nggak jadi kambing congek pas sohib-sohibnya lagi ribut karena nggak nyangka Adit, akademia dari Surabaya bisa tereliminasi. Nggak cuma mupeng liat orang-orang asyik browsing and chatting . Apalagi sampe ke-bingungan pas ketiban rezeki dipinjemin Nokia Comunicator 9210i. Pokoknya, kita nggak bakal dapet julukan ‘pejabat gatek' alias pemuda jaman batu yang gagap teknologi. Hahahaha

Ngomong-ngomong, ada juga lho temen kita yang nggak ngerasa asyik kalo ikut gaul. Iya, katanya doi takut kebawa-bawa ama pengaruh buruk pergaulan. Karena dalam pergaulan kan bukan cuma kecanggihan teknologi, tapi ada juga gaya hidup trendi yang diadopsi dari negerinya Britney Spears. Lebih banyak Having fun daripada manfaatin masa muda. Kalo nggak ngikut, dibilangnya nggak solider. Apalagi ama temen deket. Repot banget kalo kudu nolak ajakannya. Kalo diajak makan sih mending. Nah kalo diajak ngedugem, free sex, narkoba, atawa malak. Gaswat banget kan?
Nah, sobat muda muslim. Ternyata nggak semua remaja doyan gaul. Ada yang mikir mendingan tersisihkan dari pergaulan daripada jadi korban. Pendapat ini nggak salah, karena kita nggak bisa bo'ong kalo remaja yang jadi korban salah gaul makin banyak. Tapi ada juga yang bilang justru remaja kudu gaul biar potensi dirinya berkembang. Ini juga bener. Karena sebagai makhluk sosial, sulit buat kita hidup tanpa orang lain. Lantas gimana dong?
Berikut penuturan seorang psikolog, Bpk. Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi tentang remaja . Beliau bilang, remaja sama seperti makhluk hidup lainnya bakal melewati masa penyesuaian diri. Guru biologi kita bilang kemampuan beradaptasi. Seperti yang dilalui burung penguin hingga kulitnya tahan dingin walau nggak pake sweater atau syal.
Gitu juga yang dialami jerapah hingga lehernya panjang biar bisa makan pucuk-pucuk daun. Dalam istilah psikologi, adaptasi itu disebut adjusment . Yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Ka-rena itu karakter remaja akan sangat dipenga-ruhi oleh faktor lingkungan tempat doi beradaptasi. Catet yoo!
Nah, ternyata dari sisi teori bergaul emang penting buat remaja. Karena lewat pergaulan, remaja akan dididik secara tidak langsung untuk menyesuaikan sisi pribadi maupun sosialnya dengan lingkungan sekitar. Supaya bisa tetep diakui keberadaannya. Tapi, seperti orang bilang, teori nggak selalu berbanding lurus ama praktiknya di dunia nyata. Makanya kita kudu intip fakta pergaulan remaja biar punya sikap terbaik dalam bergaul. Yuk? Ngikuuut...!

Gaul trend masa kini
Anak gaul nggak boleh amburadul. Prinsip ini yang sering dipegang teguh ama temen-temen remaja sekarang. Bener lho. Penampilan bagi remaja setara dengan harga diri. Buruk penampilan alamat terkucil dari pergaulan. Maka-nya tren penampilan remaja nggak ada matinya. Dari gaya rambut, pakaian, sampe aksesoris semuanya kudu trendi.
Gaya rambut lurus, hitam, bebas ketombe, bebas kutu, bebas pajak, atau bebas parkir jadi impian remaji (remaja putri). Meski rambutnya kriba alias kribo abis, bukan hambatan untuk ikut kontes rambut indah sunsilk . Kalo perlu di- rebonding abis-abisan pake mobil galendong yang biasa ngeratain jalan yang mau diaspal. Untuk urusan pakaian juga sama. Basi bin kuno kalo pakaiannya nggak irit bahan, full press body , atau nggak bikin adre-nalin cowok marathon. Malah nggak sedikit yang mengamalkan lirik lagunya Tata Young yang Sexy, Naughty, Bitchy . Walah!
Anak cowok juga nggak mau ketinggalan. Penampilannya pengen kayak Samuel Rizal atau Nicholas Saputra yang termasuk 11 cowok terseksi dari layar lebar versi tabloid tv remaja, Gaul . Punya kekuatan magnet untuk menarik cewek-cewek kece. Gimana nggak, badan macho, seksi, plus camera face . Tahu kan camera face ? Itu lho tipe wajah yang mirip kamera. Baik yang pake blitz maupun yang nggak. Cocok nongkrong di etalase studio foto bareng kodak (apa kodok neh?). Hehehe….
Gaya rambut yang trendi, pakaian yang seksi, atau badan yang macho belon pas tanpa dilengkapi aksesoris. Topi, kalung, anting, gelang, tas, arloji, ponsel, walkman, atau mp3 player. Semuanya kudu yang paling anyar bin canggih. Nggak boleh ketinggalan juga informasi terbaru seputar tokoh idola, musik, film, atau dunia olahraga. Setelah semua peralatan dan perbekalan seperti di atas udah lengkap, tiba saatnya bagi remaja en remaji untuk unjuk gigi tebar pesona. Di sekolah, kantin, perpustakaan, mal, ang-kot, mikrolet, atau metro mini. Pede banget boo!
Tapi ngomong-ngo-mong, buat apa remaja-remaji bela-belain penampilannya? Ih. Plis deh….jangan ‘ppo' (pura-pura o'on) gitu dong. Ya tentu untuk menarik perha-tian lawan jenis dong. Soalnya obrolan seputar tips en trik jitu untuk curi pandang cari perhatian dari lawan jenis udah jadi menu wajib remaja di se-tiap kesempa-tan. Kan nggak enak kalo ngedugem, ngeliat konser AFI, nonton Di Sini Ada Setan the Movie, atau ngisi perut paket Hokka Irrito cuma sendiri. Asyiknya ditemenin demenan. Selain ada temen ngobrol, kali aja doi juga bisa nraktir. Matre banget neh! Bukan anak gaul namanya kalo nggak punya hasrat untuk berpacaran atau gaul bebas yang kian tanpa batas…. tas… tas…
Sobat muda muslim, nggak salah kan kalo kita bilang gaul remaja kian hari kian identik dengan gaya hidup hedonis. Gaya hidup yang mengejar kesenangan dunia semata. Materi, popularitas, dan penampilan jadi tujuan utama. Mereka cenderung untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa harus bekerja keras. Buat yang banyak doku, bisa aja ngikutin gaya hidup ini. Tapi buat yang kere, bisa-bisa malah ikutan casting artis Patroli, Sergap, atau Tangkap .
Gaya hidup ini juga melahirkan remaja bermental instan. Nggak mau jalanin proses untuk dapetin keinginannya. Yang penting hasil. Kalo ada jalan tikus atau pintu belakang, ngapain juga susah-suah lewat depan yang dijaga satpam en kudu permisi segala. Makanya nggak heran kalo yang ikut audisi AFI dan Indonesian Idol bejibun banget demi status seorang bintang. Udah gitu, mereka juga nggak gitu peduli ama orang lain. Yang penting dirinya sukses dan segala kebutuhannya terpenuhi. EGP (Emang Gue Pikirin alias individualis) banget tuh!

Gaul syar'i tetep trendi
Sobat muda muslim, pasti kita nggak pengen dong dibilang gagap teknologi en minim informasi karena kita jarang gaul. Padahal kita yang punya peran mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Bisa-bisa entar malah dianggap asing oleh umat kayak Tarzan tour ke Metropolitan. Memang, pergaulan remaja sekarang udah nggak islami. Tapi bukan berarti kita nggak gaul. Tetep aja ada kewajiban bagi kita untuk memperhatikan kondisi sodara-sodara kita. Lha, nanti kalo jadi korban per-gaulan yang salah gimana?
Nggak usah takut. Karena kita punya Islam. Ya, Islam yang kita pelajari, yakini, amalkan, dan dakwahkan bakal menjadi pelindung kita. Makanya kita sebagai remaja muslim boleh aja ikut trendi pake aksesories. Tapi dengan catatan, cuma terkait dengan hal-hal yang sifatnya mubah. Misalnya perkem-bangan teknologi. Kita nggak diharamkan punya ponsel terbaru yang bisa SMS, EMS, atau MMS plus dilengkapi kamera, radio, atau internet. Malah kita bisa kirim-kiriman sms tausyiah atau tahajjud call at the middle of the night kepada temen kita. Kan lumayan buat tabungan di akhirat.
Dalam berpenampilan pun Islam nggak mengharuskan hambanya untuk kumel, lecek bin dekil. Pokoknya bersih, suci dan diperoleh dari jalan halal. Itu sebabnya, remaja putri boleh pake kerudung bermotif bunga dihiasi renda yang bagian pinggirnya dineci. Tapi tetep kudu rapi sampai menutupi dada, nggak kayak kudung gaul yang amburadul.
Jangan lupakan juga jilbab (pakaian kurung yang longgar, tidak transparan, dan tidak ketat) yang melengkapi kerudung. Model atau desainnya silahkan bervariasi. Apa mau motif bunga, pohon, binatang, pemandangan, perumahan, atau perkotaan. Sesuai selera lah. Kainnya juga boleh ‘ngejreng' dan warna-warni kayak pelangi. Asal jangan tengsin aja kalo ada yang ngatain badut. Sundut terus!
Untuk anak laki juga kemana-mana nggak harus pake peci, sarung, koko plus sendal biar mencirikan muslim. Soalnya setelan kayak gitu lebih mirip anak-anak yang mo ikutan sunatan massal. Sok aja mo pake celana panjang, Levis, Lea, Pantalon, yang dipadukan kemeja atau kaos Dagadu, C59, atau H&R . Asal jangan nggak pake baju or celana aja. Buat anak laki yang punya jenggot, boleh aja dipanjangin. Tapi nggak usah dikepang kayak si Erwin Dr PM. Apalagi sampe dipakein wig atau sanggul. Biar sama-sama rambut tetep aja nggak cocok. Huhuy!
Satu lagi yang kudu kita perhatiin. Kemampuan kita untuk berpenampilan trendi atau kecang-gihan teknologi yang dipunya jangan sampe bikin kita jadi sombong atau arogan. Ingat baik-baik lho sabda Rasulullah saw. seperti ini. BIar kita juga enak gitu lho. Biar ati-ati banget dalam setiap perbuatan kita: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan ada kesombongan (meski hanya) seberat dzarrah. Lalu seorang sahabat bertanya, “ada kalanya seseorang menyukai pakaian yang indah dan sepatu yang bagus.” Maka Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” ( HR Bukhari ).

Tetep kudu mabda'i
Bener sobat. Meskipun ikut trendi kita tetep kudu mabda'i alias ideologis. Artinya, ketika gaul tentang segala hal, jadikan sebagai informasi pelengkap untuk dianalisis dan kita sampaikan lagi ke orang lain dengan sudut pan-dang Islam. Jadi, kita dan temen-temen nggak mudah tergoda untuk ikutan tren yang nggak bener. Apalagi sampai terjerumus ke dalam pola hidup Barat yang sekuler. Nggak deh!
Makanya kita boleh nyari informasi seputar kehidupan selebritis, film baru yang lagi diputar di twenty one , atau musik yang lagi banyak digandrungi. Biar nggak ketinggalan informasi. Lebih bagus lagi kalo kita juga ‘ngeh' ama tren gaya hidup remaja. Kan aneh kalo kita bilang pacaran itu haram. Sementara kita nggak punya wawasan tentang asal-muasal pacaran, akibat yang ditimbulkan, dan solusi yang ditawarkan. Pokoke kudu komplit biar nggak tulalit. Jangan sampe berbelit-belit!
Gimana caranya biar tetep mabda'i? Ngaji solusinya. Tentu yang dikaji adalah Islam sebagai sebuah ideologi. Islam sebagai sebuah aturan hidup yang bisa memfilter budaya sekular dan ide-ide rusak yang berasal dari Barat. Nggak cuma itu, sebagai sebuah ideologi, Islam juga mampu membimbing kita dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi.
Oya, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif, Bro. Buat apa tampil “gaul” kalo harus mengorbankan akidah, iya nggak seh? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Pelajari Islam, pahami sebagai sebuah ideologi.
Perlu kamu catet baik-baik, bahwa Islam nggak pernah kok ‘alergi' dengan yang namanya perkembangan jaman. Welcome aja. Nggak masalah kok. Tapi dengan catatan, perkem-bangan jaman itu wajib sesuai dengan ajaran Islam. Kalo nggak? Ke laut aja deh!
Intinya sih, kamu boleh aja gaul tren, tetep syar'i, juga mabdai. Oke?
Read more
 
Powered by Blogger